Kurasa sudah banyak suara2 sumbang dan cliche yang membicarakan para hijaber alias muslimah yang make hijab a.k.a jilbab (kalo bahasa indo nya). Nah aku juga jadi ikutan tergelitik berkomentar tentang topik yang satu ini.
Yang jelas, anak-anak di kelasku yang notabene muslimah, termasuk aku sendiri, heboh sekali meminta orang tua kami untuk menjahitkan rok panjang dan baju lengan panjang serta jilbab untuk kami pakai ke sekolah. Aku malah memaksa Umiku untuk menyelesaikan rokku hari rabu itu. Aku merengek-rengek.
Pokoknya, besok pagi harus bisa kakak pake, Mi!
Tapi nak, kancing roknya belum selesai
Tapiiiii Miiiiii, kakak udah janji sama kawan-kawan besok pake rok, baju panjang dan jilbab sama-sama.
Yaudah, Umi minta tolong Kak Beti kalo gitu.
Akhirnya Umiku mengalah demi anaknya yang udah ngebet banget mau pake jilbab. Dan benarlah besoknya dengan riang gembira aku melangkah ke sekolah lengkap dengan rok dongker panjang, baju panjang dan jilbab putih baru. Aku dan teman-teman pun gembira sekali karena melihat satu sama lain memakai jilbab. Aneh tapi seru. Biasanya kita ke sekolah dengan rambut dikuncir, berbando dan pernak pernik di rambut, tapi kali ini kepala kita tertutup jilbab. Senang sekali rasanya.
Yah, tapi namanya anak kelas 4 SD, pasti kita mengeluh kepanasan. Dan karena keterbatasan rok, baju lengan panjang dan jilbab, aku dan teman-teman hanya memakai jilbab pada hari Rabu dan Kamis saja. Hahaha.
Nah kembali ke masa kini.
Aku semacam melihat fenomena jilbab kembali muncul. Hanya saja karena aku sudah cukup dewasa untuk memperhatikan keadaan sekitar, aku sangat sadar bahwa fenomena berjilbab lebih heboh daripada saat aku masih SD dulu. Dari adanya komunitas jilbab yang menjamur dimana-mana, banyaknya tutorial berjilbab di yutube, majalah-majalah yang mulai meng-hire para model yang dipakaikan jilbab atao memang berjilbab.
Tentu saja aku senang bahwa jilbab ternyata gak dianggap aneh lagi, bahwa jilbab sudah tak asing, bahwa para jilbabers tak sulit lagi mencari kerja.
Allah Swt dalam Al Quran berfirman:
Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang.(Al Ahzab.59).
Sepengatahuanku, ayat inilah yang menjadi dasar diwajibkannya wanita-wanita muslim berjilbab. Yap agar mudah dikenali, agar dengan mudah sesama muslim mengenali satu sama lain, itu salah satu tujuan memakai jilbab.
Tapi ada satu yang menggajal hati, bahwa ternyata sangat banyak yang 'hanya' memakai jilbab, tanpa perduli lagi apakah jilbab yang dipakai menutup aurat atau hanya sekedar membungkus.
Loh, emang beda yak menutup sama membungkus?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
tutup: benda yg menjadi alat untuk membatasi suatu tempat sehingga tidak terlihat isinya, tidak dapat dilewati, terjaga keamanannya.
menutup: menjadikan tidak terbuka (spt mengatupkan, mengunci, merapatkan)
bungkus: kata penggolong untuk benda yg dibalut dengan kertas (daun, plastik, dsb);
membungkus: membalut seluruhnya sehingga tidak kelihatan
“Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).” (Syaikh Al Bani dalam Jilbab Muslimah). (http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/jilbabku-penutup-auratku.html)
**Lalu kalau masalah setelah berjilbab tapi kelakuan masih kesana-kemari, aku gak berani berkomentar aneh-aneh. Karena aku sadar bahwa kelakuanku juga masih banyak yang gak islami. Tapi kan gak salah jika memulai berjilbab sambil memperbaiki akhlak :D
Anyway, ini dia penampakan timphan :D




.jpg)
