


Sering sekali hati saya terbelit iri, lalu dicengkram cemburu saat melihat salah seorang sahabat saya lebih sukses. Yah, memang kodratnya manusia selalu ingin berlomba2 dalam hal apapun. Tp saya rasa perasaan yg sama sudah sangat sering menimpa saya. Saya hanya iri(plus kagum sebenarnya) pada hal2 positif---menurut saya---seperti ibadah beberapa sahabat saya yang pool, nilai2 mereka lebih memuaskan (walaupun saya ngerasa usaha seberat mereka juga), memiliki banyak sahabat (baik kk2,adk2, ataupun yg seumuran) dan beberapa hal positif lainnya yang kalo saya sebutin disini terus mereka baca ketauan deh saya selama ini ngagumin prestasi mereka,hehe.
Kalo sahabat2 saya (sebagian) punya pacar, itu mah saya gk iri..malah kasihan. Menurut pengalamn saya jatuh cinta itu bikin saya jd gak konsen, sensitive, selalu mikirin si dia, suka senyum2 gk jelas, apalagi kalo saya kebetulan barusan nonton drama korea,,,aduuuh! Gk enak bangeet, senang campur sedih campur ngayal, nano-nano deh.Hidup jadi gak terarah rasanya disaat jatuh cinta. Kalo pacaran sih sampe sekarang saya belum nemu untungnya…ni menurut saya lho! ^_^
Anyway, back to perasaan iri n cemburu sama sahabat2 saya itu..lama2 saya jadi mikir jangan2 selama ini saya klo ngerjain sesuatu gak kuat nawaitunya alias niat. Padahal kan niat dulu baru bekerja. Kalo niat saya kuliah Cuma pingin dapet gelar sarjana ,mungkin aja Allah gk izinin saya siapin kuliah karena hal2 tertentu, ujung2nya pasti saya jadi kecewa berat. Depresi, lalu bunuh diri.
Oke, saya mulai buat perjanjian sama diri sendiri. Bahwa saya gk boleh iris sama rezeki yang udah dijatahin ke sahabat2 saya itu, toh kalo saya ketiban nilai bagus mulu jangan2 saya jadi sombong trus takabur. “Hei, jangan iri dengan rezeki mereka!” gitu kira2 dialog dgn nurani saya.
Saya suka baca puisi Taufik Ismail ini dalam rangka menghapus si iri, si cemburu plus kegalauan hati…..Puisi ini juga membuat saya sangat yakin Allah tak menciptakan sesuatu yang sia-sia.
Puisi Taufik Ismail: “ Kerendahan Hati”
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan,
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
You have u’r own girl!! Yosh! Fight-Oh! ^_^
*11 Nov 2010, saat sedang digerogoti penyakit hati (berharap cepat sembuh,hehe)
Merah-Putih..film yang membuat saya tersadar bahwa Indonesia benar2 diperjuangkan oleh banyak pejuang yg gk kenla menyerah. Segala perbedaan dicoba harmonisasikan, agama, ego, ketakutan, keberanian, warna kulit, daerah dan bahasa tak menghalangi untuk bisa merebut Negara tercinta ini dari para Inlander,Belanda.
Film yang diperanin Lukman Sardi ini juga ngajarin arti pemimpin,memimpin dan perintah itu apa. Bahwa pemimpin adalah sosok yg dipilih krn kualitasnya, yg memimpin dengan kecerdasan dan keberanian bukan hanya bermodal nekat, dan perintah yg dioralkannya bukan sekedar hasil hayalan apalagi demi diri sendiri.
Tapi, apa yang terjadi dgn RI kini? para petinggi dan pemimpin yang berhak membuat keputusan penting menyangkut nyawa2 rakyat malah seenak perutnya manfaatin rakyat untuk mengisi bak2 harta mereka yang entah berapa jumlahnya.
*Wallahu alam...berharap ada pemimpin sekaliber Rasulullah, para sahabat, atau setidanya seumpama tokoh yg diperankan Lukman Sardi.
.jpg)
Copyright 2009 - Find another Earth..
Blogspot Theme designed by: Ray Creations, Ray Hosting.