Pernah nangis karena urusan sepele yg tingkatannya itu sepele sesepele-pelenya? hahaha.
[1] cak = coba
[2] nampak = memperlihatkan
[3] tumbok = tonjok
Pernah nangis karena urusan sepele yg tingkatannya itu sepele sesepele-pelenya? hahaha.
Suddenly, my Acehnese friend had an idea about making video to recall the memory about the tsunami that struck Aceh 9 years ago, for those who lost their mother, father, husband, wife, baby, friends, home, and even their living. Tita, Reza and I that were there when tsunami took all we had, yeah we are Acehnese, were strongly agree.
We have so many talented Indonesian friends in making such a creative thing. So that we sat together and discussed how we will arrange the story plot to deliver our messages and hopes to those who still in such a deep sadness caused by tsunami.
So, here we present u the video :D
Sekitar sebulan yang lalu, Kak Lidya, salah satu seniorku yang sama-sama sedang mengambil program master di kampusku yang sekarang, mendekatiku.
"Ruzen, kenal sama ibuk itu?" sambil menunjuk ke arah seorang ibu berperawakan kecil bermata sipit yang terlihat ramah. Aku mengikuti arah telunjuk Kak Lidya.
"Tau aja sih kak, gak kenal..cuma pernah lihat pas shalat tarawih. Ibunya Samera kan ya?"
"Iya, nah ibu itu minta aku untuk ngajarin anaknya ngaji, tapi aku udah ngajar anaknya Mbak Wati tiap minggu. Ruzen bisa gak? kalo bs aku kenalin ke ibunya"
"Hah,ngajar ngaji kak? gimana caranya? Aku gak bisa ngomong zhong wen[2] loh"
"Gak sulit kok, aku juga gak begitu bisa zhong wen, tp bs kok ngajar anaknya Mbak Wati"
Setelah mikir setengah detik, aku mengiyakan tawarannya Kak Lidya. Lalu mulailah aku dan si ibu berkenalan,
"你叫什麼名字 (Nǐ jiào shénme míngzì)?[3]"
"我 叫 Ruzana[4]"
" 我 叫Aisha, 我給你我的電話號[5]" Aisha Taitai[6] mendikte nomer hapenya, disini aku mulai kalang kabut, aku masih tergagap menghapalkan nomor dalam bahasa cina, jadi aku meminta si ibu mengulang lagi sampai 2 kali, haha. Begitulah sudah setahun disini tapi kemampuan bahasa mandarinku masih cetek, cukup lah untuk kepasar dan beli keperluan hidup. Itu pun bermodalkan menunjuk dan menyakan harga,haha.
Akhirnya aku dan Aisha Taitai bersepakat (tentunya dengan bahasa yang campur aduk, inggis-mandarin,hahahaha), minggu berikutnya jam 10 pagi aku akan ke rumahnya dan memulai pelajaran mengaji.
Dan di dalam bis pulang ke kampusku, aku mulai menerka-nerka akan seperti apakah pelajaran mengaji minggu depan (berasa kayak nonton silet yak :D). Antara excited dan cemas, tapi Iebih ke excitednya sih. I'm looking forward to meet the kids :D
Footnote:
[1] Saya Aisha
[2] Bahasa cina
[3] Nama kamu siapa?
[4] Wo jiao Ruzana = Saya dipanggil Ruzana
[5] Wo jiao Aisha, wo gei ni wo de dian hua hao = Saya dipanggil Aisha, ni saya kasih nomor hape saya ke kamu e.
[6] Ibu Aisha
Dan terjemahannya itu sedikit ada gaya anak banda aceh, maklum ya, berhubung aku anak banda sejati :D.
Sometimes, just thinking about it make something inside me beats a lil bit faster than usual. As today the temperature goes down and reaches 12 degree, just think and see it make me feel warmer :D. Even though it looks so untidy, mess up and not so clean at all. I still like the way I feel toward it.
But, sometimes I'm just afraid to think about it and say that I like it so much, afraid of loosing the feeling because I express it so often. Almost all the time I cannot stand to just express it, then guilt approaches me at the end. Always. Then I start to think, maybe it's better for me to keep the feeling inside, save it, and use it when I really need it.
While I'm typing this short 'mess up' English writing about it, something inside me become warmer and warmer :D
Copyright 2009 - Find another Earth..
Blogspot Theme designed by: Ray Creations, Ray Hosting.