Dan ternyata kalo lagi gak pas mood..semua menjadi gak pas tiba-tiba. Gak match aja, semua yang dilihat salah, semua yang kerjakan gak bener jadinya, apa yang dimakan pun menjadi gak enak juga, padahal hobi makannya minta ampun dah.
Lalu laptop pun jadi ikut-ikutan gak bener. Browser jadi ngadat, minta install macam-macam. Yang dibaca pun jadi gak masuk otak. Arrrrgh.
Dan mood, bisa gak kita kerjasama aja? Swing mulu kan gak asik yak..pusing anak muda. Mari kita dengerin radio aja kalo gitu..lalu mandi dan tidur yak.
Diposting oleh
Ruzana Dhiauddin
komentar (0)
Diposting oleh
Ruzana Dhiauddin
komentar (2)
Kurasa sudah banyak suara2 sumbang dan cliche yang membicarakan para hijaber alias muslimah yang make hijab a.k.a jilbab (kalo bahasa indo nya). Nah aku juga jadi ikutan tergelitik berkomentar tentang topik yang satu ini.
Sepanjang ingatanku, fenomena jilbab ini pernah marak juga saat aku masih duduk di kelas 4 di MIN 1 (setingkat SD) Banda Aceh. Sebagai anak sekolah dasar yang belom peduli keadaan sekitar, aku tidak terlalu memperhatikan, apakah fenomena ini sampai menjangkiti orang2 dewasa juga.
Yang jelas, anak-anak di kelasku yang notabene muslimah, termasuk aku sendiri, heboh sekali meminta orang tua kami untuk menjahitkan rok panjang dan baju lengan panjang serta jilbab untuk kami pakai ke sekolah. Aku malah memaksa Umiku untuk menyelesaikan rokku hari rabu itu. Aku merengek-rengek.
Pokoknya, besok pagi harus bisa kakak pake, Mi!
Tapi nak, kancing roknya belum selesai
Tapiiiii Miiiiii, kakak udah janji sama kawan-kawan besok pake rok, baju panjang dan jilbab sama-sama.
Yaudah, Umi minta tolong Kak Beti kalo gitu.
Akhirnya Umiku mengalah demi anaknya yang udah ngebet banget mau pake jilbab. Dan benarlah besoknya dengan riang gembira aku melangkah ke sekolah lengkap dengan rok dongker panjang, baju panjang dan jilbab putih baru. Aku dan teman-teman pun gembira sekali karena melihat satu sama lain memakai jilbab. Aneh tapi seru. Biasanya kita ke sekolah dengan rambut dikuncir, berbando dan pernak pernik di rambut, tapi kali ini kepala kita tertutup jilbab. Senang sekali rasanya.
Yah, tapi namanya anak kelas 4 SD, pasti kita mengeluh kepanasan. Dan karena keterbatasan rok, baju lengan panjang dan jilbab, aku dan teman-teman hanya memakai jilbab pada hari Rabu dan Kamis saja. Hahaha.
Nah kembali ke masa kini.
Aku semacam melihat fenomena jilbab kembali muncul. Hanya saja karena aku sudah cukup dewasa untuk memperhatikan keadaan sekitar, aku sangat sadar bahwa fenomena berjilbab lebih heboh daripada saat aku masih SD dulu. Dari adanya komunitas jilbab yang menjamur dimana-mana, banyaknya tutorial berjilbab di yutube, majalah-majalah yang mulai meng-hire para model yang dipakaikan jilbab atao memang berjilbab.
Tentu saja aku senang bahwa jilbab ternyata gak dianggap aneh lagi, bahwa jilbab sudah tak asing, bahwa para jilbabers tak sulit lagi mencari kerja.
Sepengatahuanku, ayat inilah yang menjadi dasar diwajibkannya wanita-wanita muslim berjilbab. Yap agar mudah dikenali, agar dengan mudah sesama muslim mengenali satu sama lain, itu salah satu tujuan memakai jilbab.
Tapi ada satu yang menggajal hati, bahwa ternyata sangat banyak yang 'hanya' memakai jilbab, tanpa perduli lagi apakah jilbab yang dipakai menutup aurat atau hanya sekedar membungkus.
Loh, emang beda yak menutup sama membungkus?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
So, apakah kita menutup atau membungkus aurat kita?
**Lalu kalau masalah setelah berjilbab tapi kelakuan masih kesana-kemari, aku gak berani berkomentar aneh-aneh. Karena aku sadar bahwa kelakuanku juga masih banyak yang gak islami. Tapi kan gak salah jika memulai berjilbab sambil memperbaiki akhlak :D
Anyway, ini dia penampakan timphan :D
Yang jelas, anak-anak di kelasku yang notabene muslimah, termasuk aku sendiri, heboh sekali meminta orang tua kami untuk menjahitkan rok panjang dan baju lengan panjang serta jilbab untuk kami pakai ke sekolah. Aku malah memaksa Umiku untuk menyelesaikan rokku hari rabu itu. Aku merengek-rengek.
Pokoknya, besok pagi harus bisa kakak pake, Mi!
Tapi nak, kancing roknya belum selesai
Tapiiiii Miiiiii, kakak udah janji sama kawan-kawan besok pake rok, baju panjang dan jilbab sama-sama.
Yaudah, Umi minta tolong Kak Beti kalo gitu.
Akhirnya Umiku mengalah demi anaknya yang udah ngebet banget mau pake jilbab. Dan benarlah besoknya dengan riang gembira aku melangkah ke sekolah lengkap dengan rok dongker panjang, baju panjang dan jilbab putih baru. Aku dan teman-teman pun gembira sekali karena melihat satu sama lain memakai jilbab. Aneh tapi seru. Biasanya kita ke sekolah dengan rambut dikuncir, berbando dan pernak pernik di rambut, tapi kali ini kepala kita tertutup jilbab. Senang sekali rasanya.
Yah, tapi namanya anak kelas 4 SD, pasti kita mengeluh kepanasan. Dan karena keterbatasan rok, baju lengan panjang dan jilbab, aku dan teman-teman hanya memakai jilbab pada hari Rabu dan Kamis saja. Hahaha.
Nah kembali ke masa kini.
Aku semacam melihat fenomena jilbab kembali muncul. Hanya saja karena aku sudah cukup dewasa untuk memperhatikan keadaan sekitar, aku sangat sadar bahwa fenomena berjilbab lebih heboh daripada saat aku masih SD dulu. Dari adanya komunitas jilbab yang menjamur dimana-mana, banyaknya tutorial berjilbab di yutube, majalah-majalah yang mulai meng-hire para model yang dipakaikan jilbab atao memang berjilbab.
Tentu saja aku senang bahwa jilbab ternyata gak dianggap aneh lagi, bahwa jilbab sudah tak asing, bahwa para jilbabers tak sulit lagi mencari kerja.
Allah Swt dalam Al Quran berfirman:
Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang.(Al Ahzab.59).
Sepengatahuanku, ayat inilah yang menjadi dasar diwajibkannya wanita-wanita muslim berjilbab. Yap agar mudah dikenali, agar dengan mudah sesama muslim mengenali satu sama lain, itu salah satu tujuan memakai jilbab.
Tapi ada satu yang menggajal hati, bahwa ternyata sangat banyak yang 'hanya' memakai jilbab, tanpa perduli lagi apakah jilbab yang dipakai menutup aurat atau hanya sekedar membungkus.
Loh, emang beda yak menutup sama membungkus?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
tutup: benda yg menjadi alat untuk membatasi suatu tempat sehingga tidak terlihat isinya, tidak dapat dilewati, terjaga keamanannya.
menutup: menjadikan tidak terbuka (spt mengatupkan, mengunci, merapatkan)
bungkus: kata penggolong untuk benda yg dibalut dengan kertas (daun, plastik, dsb);
membungkus: membalut seluruhnya sehingga tidak kelihatan
Ibnu Katsir mengatakan,
“Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).” (Syaikh Al Bani dalam Jilbab Muslimah). (http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/jilbabku-penutup-auratku.html)
Kalo menurutku sih menutup adalah menyembunyikan apa yang harus ditutupi (aurat) tanpa membentuk. Sedangkan kalo berbicara tentang membungkus aku akan langsung teringat timphan (makanan khas aceh yg dibungkus daun), dan lazimnya membungkus itu akan memperlihatkan bentuk benda yang dibungkus.
Jadi, masih menurutku nih ya, pake jilbab digaya2in sikit mah gapapa, selama esensi jilbab dan menutup auratnya masih ada. Daripada kesulitan wudhu gegara jilbab yang bak topan meliuk-liuk kan ya :P. Kalo berjilbab, tapi masih membungkus dan pake kain tipis yang masih memperlihatkan aurat yang berusaha kita tutupi kan jadi gak memenuhi syarat menutup aurat.
**Lalu kalau masalah setelah berjilbab tapi kelakuan masih kesana-kemari, aku gak berani berkomentar aneh-aneh. Karena aku sadar bahwa kelakuanku juga masih banyak yang gak islami. Tapi kan gak salah jika memulai berjilbab sambil memperbaiki akhlak :D
Anyway, ini dia penampakan timphan :D
Diposting oleh
Ruzana Dhiauddin
komentar (0)
Pukul 12.04 malam, dan aku
tiba-tiba merasa rindu sekali. Aku rindu diriku, rindu merasakan menjadi aku
yang dulu. Aku yang suka menulis cerpen2an tentang apa-apa yang melintas
dikepalaku, walaupun selalu mandeg di tengah jalan.
Aku yang dulu yang akan merapalkan ayat-ayat
kitab suci selepas shalat, walaupun hanya 1-2 lembar. Bahkan terkadang
kusempatkan membaca tafsir.
Aku yang akan memasak bersama umiku, atau
hanya membantu mengaduk gula ke dalam seteko teh.
Aku yang akan menghubungi teman-temanku
kapan saja. Sekarang aku hanya akan diam saja bahkan jika punya
bertumpuk-tumpuk masalah.
Ntahlah, seperti ada yang salah dengan
diriku yang sekarang. Kalau urusan berbeda, pastilah ada yang berbeda. Umurku makin
banyak, sudah masuk hitungan duapuluhan. Dan aku berharap aku semakin dewasa, mulai
bisa memilah hal yang baik. Walaupun ada saja hal yang belum bisa kutinggalkan,
bahkan sering kali aku memulai sesuatu yang kutau tak baik, tapi belum bisa
kuhindari. Tentu saja ada yang salah..tentu. Tapi aku seperti tak mau
mengakuinya. Seperti ingin membuat pembenaran.
National
Central University, 3 Maret 2014
G14,
349.
Zhongli, Taiwan.
Diposting oleh
Ruzana Dhiauddin
komentar (2)
Alkisah, terdapatlah 2 anak kecil (usia berkisar 10 tahunan) yang satu secara fisik memang imut dan satu lagi berpostur sesuai usianya. Tapi semisal anak-anak SD jaman sekarang, mereka udah megang yang namanya hape elus alias hape touch screen, dan punya FB, twitter, instagram dan entah sosmed apa lagi. Dua orang anak Banda Aceh yang belajar di kelas yang sama ini sedang makan bakso di kantin sekolah sambil becakap-cakap.
"Eh Dahlia, kee[1] tau gak apa itu kecewa?" sambil asik men-tap hape touch screennya.
"Eh apha lhaghi ithu Kak Rhisthi?" jawab si Dahlia kesulitan, mulutnya asik mengunyah, pipinya saja sudah keliahtan menggelembung sangking penuhnya.
"Aku sebenanrnya pas lagi browsing, ketemu blog sapa gituu, tentang kecewa kek tu lah isinya. Gak ngerti juga aku, tapi penasaran. Kee mau baca? ato kita baca separagraf seorang kek waktu guru bahasa indonesia kita suruh kita baca berantai di kelas kek mana?" panjang penjelasan si Kak Risti (yang entah kenapa dipanggil Kak, padahal sekelas aja pun)
"Oke..pedes kali kak bakso aku! banyak kali tetarok[2] cabe tadi!!" kepedasan dan keringat mulai bikin Dahlia garuk-garuk kepala.
"Aku yang mulai paragraf pertama ya..ehem"
Kalian tau apa itu kecewa? Aku pun sebenarnya agak kabur tentang pengertian kecewa. Hanya saja bila aku sepertinya mulai merasa kecewa, sesuatu di dalam sini (kurasa sesuatu itu terlindung di balik rusuk) seperti berdenyut pelan.
"Udah, sekarang giliran kee"
"Eh iya kak, tapi aku mau nanya dulu boleh?"
"Mmm..nanya apa kee? kujelasin nanti" wajah Risti terlihat meyakinkan.
"Itu kak, maksud kabur itu, lari dari rumah ya? aneh kali kok. Teros sesuatu yg berdenyut yang dibilang disitu apa maksudnya? jantung? kan emang bedenyut dia, kalo gak matilah kita, sakit jantung namanya itu kak."
"Mmmm..banyak kali nanya kok kee. Nanti di kelas aku jawab e. Sekarang baca dulu lanjutannya" pudar keyakinan Risti, rupanya dia gak ngerti juga.
Lalu aku mulai meraba dan mencoba memastikan, apa aku benar-benar kecewa?
Seperti siang ini saat aku dan dia berbincang masalah masa depan, percakapan kami terus mengalir, sampai aku menanyakan hal yang aku tekankan jauh-jauh hari, bahwa aku memberi deadline untuk urusan yang satu ini. Dan seperti kusangka, ternyata saat dia memberikan jawaban, sesuatu di balik rusuk itu kembali berdenyut sangat perlahan, tapi terasa.
"Udah kak..mm, aku boleh nanya lagi?"
"Alah, nanti ajalah ya..belom abes kita baca ni" Risti buru-buru menjawab. Mati aku, susah kali pertanyaan si Dahlia ini, fiiuh.
Dan aku mulai sadar, bahwa kadang manusia terlalu cepat merasa kecewa, bahkan sebelum sesuatu terjadi. Kadang jika tak bisa menjawab ujian aku akan kecewa, padahal salahku karena tak belajar giat. Atau saat bos memberiku banyak sekali kerjaan di kantor, aku kecewa kenapa teman-temanku yang lain tak mendapat kerjaan sebanyak punyaku. Padahal aku akan senang nantinya dengan bonus yang kudapatkan. Lalu bila saat ini teman-temanku sudah menikah dan punya anak, sedangkan aku belum, aku kecewa tentu saja. Tapi pada siapa? Tuhan? Padahal aku sendiri belum tau rencana indah apa yang telah Dia siapkan untukku. Maka kuputuskan memenggal kekecewaan, karena Dia-lah Sang Creator sejati, kutunggu saja bagian cerita mana yang akan kumainkan selanjutnya.
teng..teng..teng..tiba-tiba bel tanda jam istirahat habis berbunyi.
"Eh dah habes waktu keluar maen-maen kita. Yoklah balek ke kelas. Dah habis pun bacaan tadi tu"
"Iya kak, eh tapi baksonya belom abes ni, gara-gara kakak suruh baca kecewa-kecewa itu. Gak ngerti aku ntah hapa dibilang.." jawab Dahlia sambil bersungut-sungut, lalu lari menuju gerobak bakso.
"Pak, baksonya boleh disimpan? nanti pas keluar maen-maen kedua saya balek lagi?" Dahlia nanya ke penjual bakso.
"Aduuh dek gak bisa, maaf yaaa"
"Yaudah lah Pak kalo kek gitu..yok Kak Risti kita masuk kelas" jawab Dahlia lunglai.
"Eh dek-dek, bayar duluuuu!"
![]() |
| (sumber foto : http://www.jelajahunik.us/2011/10/ponsel-tak-lagi-monopoli-orang-dewasa.html) |
-NB-
[1] kee = kamu
[2] tetarok = tidak sengaja menaruh ( put something, susah pulak nerjemahin dlm bhs indo yg EYD)
Saya mau ngucapin kepada anak-anak yang memang masih anak-anak, jaganlah kalian terlalu cepat dewasa yaa. Nanti efeknya bisa kek diatas tu, udah bayar bakso semangkok tapi gak sempat makan sampe habis, gara-gara kepo sama hal-hal yang belom waktunya untuk kalian tau. Mahaha.
Dan untuk yang udah dewasa, kalo gak ada kecewa pasti kita gak akan tau gimana rasanyanya gak kecewa itu :D, hahaha. (udah pada tau pasti yaa..haha)

